Politik Kutu Loncat

 

Oleh Rasno

 

Dalam era yang demokrasi, setiap orang memiliki hak masing-masing yang akan dipergunakan sesuai hati nuraninya. Tidak peduli akan berdampak positif atau malah sebaliknya, negatif. Dalam dunia perpolitikan di Indonesia, loncat kesana kemari, dari satu partai ke partai lain adlah hal yang biasa. Entah sekedar iseng cari sensasi, atau memang dalam upaya pencarian ”jati diri” identitas kepartaian dan ke-politisasiannya?

 

Terlepas dari itu semua, budaya politik kutu loncat memberikan isyarat tidak konsistennya seseorang dalam menjalankan perannya di kepartaian. Akhir-akhir ini politik kutu loncat menjaelang pemilu dan pencalonan anggota legislatif mulai marang. Sebut saja Zanal Maarif yang sekarang nangkring di tubuh Partai Demokrat padahal sebelumnya ia berada pada tubuh Partai Peratuan Pembangunan (PPP). Tidak hanay itu, Zaenal Ma’rif juga sempat berseteru dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait pencemaran nama baik yang dilakukan Zainal Maarif kepada SBY belum lama ini.

 

Fenomena politik kutu loncat juga terjadi pada kubu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), ada beberapa orang yang semula pendukung PKB Gusdur membelot ke PKB Muhaimin Iskandar. Suatu hal yang lumrah politik kutu loncat terjadi menjelang Pemilu. Yang menarik dari fenomena politik kutu loncat ialah dalam perpolitikan memang tidak memandang siapa kawan siapa lawan. Bisa saja yang dulunya saudara, menjelang Pemilu jadi musuh. Atau yang dulunya musuh dan berseteru menjadi kawan menjelang Pemilu. Itulah politik.

 

Banayknya partai politik baru juga tidak menutup kemungkinan terjadinya politik kutu loncat semakin marak. Wajah-wajah lama di tempat baru pun seperti jamur di musim penghujan. Harapan akan kehadiran pemimpin baru dengan harapan yang baru pula serta pardigma baru akan hanya menjadi harapan semata. Lihat saja orang-orang yang masih bercokol di partai-partai lama dan baru, masyarakat dihadapkan pada calon pemimpin yang itu-itu saja.

 

Bagaimana dengan calon legislatif dari kalangan selebritis? Apakah dari profesi selebritis ke partai politik juga dapat dikatakn politik kutu loncat? Politik kutu loncat terjadi karena adanya desakan sekaligus kesempatan mendapatkan jabatan baru yang terdapat pada partai lain. Sedangkan selebritis yang melangkah ke parpol atau pemimpin terjadi karena adanya keinginan sebuah perubahan disertai dengan kompetensi yang dimilikinya. Adapun seleb yang hanya coba-coba, (maaf) itu seleb cari sensasi. Mudah-mudahan semua memiliki niat yang mulia, yakni menuju perubahan Indonesia ke depan.

 

Berbicara politik kutu loncat menjelang Pemilu 2009, tentu kurang lengkap kalau kita tidak menyinggung masyarakat sebagai pemilih. Merekalah yang akan menentukan nasib ribuan calon legislatif yang sudah terdaftar di KPU dan siap dipilih pada Pemilu 2009. Saya kira masyarakat saat ini pun sudah bisa menilai baik buruknya suatu partai dan calon legialatif yang ada saat ini. Masyarakat pun dapat menyeleksi dan memilih sesuai dengan hati nuraninya mengenai calon pemimpin yang layak untuk tahun 2009-2014. Rentang waktu kampanye yang cukup lama memberikan kemudahan bagi rakyat untuk memilih calon pemimpin yang ideal dan mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik lagi. Sehingga, rakyat tidak lagi membeli kucing dalam karung. 

 

 

One Response

  1. Kutu loncat adalah binatang yang suka meloncat-loncat dalam upaya untuk bertahan hidup.
    Politik (us) yang kutu loncat adalah (bukan binatang, tetapi manusia) yang ingin tetap eksis di dunia per-DPR-an, agar bisa memenuhi segenap hasratnya belaka.

Leave a Reply